![]() |
| Keterangan Foto: Kondisi pengungsi banjir bandang di sebuah surau di Gurun Panjang Kampung Jambak Kelurahan Gunung Sarik, Kuranji usai video viral di media sosial. |
Setelah diterjang banjir bandang dan kehilangan harta benda, mereka kini harus menghadapi luka yang tak kalah perih. Fitnah dan hujatan publik akibat sebuah video viral di media sosial.
Video tersebut menuding adanya aktivitas alat berat yang diduga dipaksa bekerja untuk mengeruk pasir sungai, lalu dijual demi keuntungan pribadi.
Narasi itu menyebar liar, tanpa klarifikasi, tanpa empati dan tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Akibatnya, para korban banjir yang tengah mengungsi di sebuah surau justru menjadi sasaran kemarahan netizen.
“Sudah jadi korban bencana, kami malah difitnah dan dihujat,” ungkap Ade salah seorang warga dengan mata berkaca-kaca.
Sejak video itu viral, dampaknya begitu nyata. Bantuan dari para donatur perlahan berhenti mengalir. Satu per satu keluarga pengungsi terpaksa meninggalkan surau dan menumpang hidup di rumah kerabat karena tidak sanggup bertahan tanpa bantuan.
Kini, hanya tersisa tiga kepala keluarga yang masih bertahan di surau dengan perlengkapan seadanya, bertahan di tengah keputusasaan.
Tim media turun langsung ke lokasi kemudian menemui Misriadi (50), operator alat berat yang telah sejak awal ditugaskan untuk membantu penanganan pasca-bencana.
Media ini melakukan konfirmasi langsung terkait tuduhan pengancaman pada dirinya. Dengan suara tegas namun penuh kelelahan, ia membantah keras tudingan dalam video viral tersebut.
“Itu fitnah. Tidak pernah ada ancaman kepada saya. Pasir yang dimuat ke truk itu untuk ditimbunkan ke jalan dan halaman rumah warga yang rusak akibat banjir.” jelas Misriadi, Jumat (09/01/2026).
Misriadi menambahkan, penggunaan alat berat pun tidak bisa sembarangan dan harus melalui izin dinas terkait.
“Kalau memang diperlukan, kami lapor dulu pada Dinas yang menyediakan alat ini. Tidak ada jual beli pasir seperti yang dituduhkan,” tegasnya.
Sementara itu, Indra (56) warga yang muncul dan disorot dalam video viral mengaku menjadi korban hujatan paling brutal.
Ia dimaki, dituding, bahkan disebut sebagai dalang penjarahan pasir sungai. Padahal, menurut pengakuannya, inisiatif pengambilan pasir murni demi kepentingan warga terdampak.
“Benar, itu inisiatif saya. Ada warga yang minta pasir untuk menimbun jalan dan halaman rumah mereka yang habis dibawa banjir. Bukan untuk diperjualbelikan,” ujar Indra.
Sebagai tokoh adat dan Ninik Mamak setempat, Indra mengaku hanya menjalankan tanggung jawab sosialnya.
Diakuinya, Ia berkomunikasi dengan operator dan memastikan izin telah diketahui pihak terkait. Namun di saat itulah, ia direkam secara diam-diam dan diberi narasi menyesatkan oleh oknum yang juga merupakan warga sekitar.
“Kami di sini ada lima KK, semuanya korban banjir dan mengungsi di surau. Tapi justru kami diperlakukan seperti penjahat. Bahkan saya sampai dijemput polisi karena video itu,” tuturnya lirih.
Kini, warga Gurun Panjang hanya ingin satu hal dari masalah video tersebut, yaitu kebenaran harus ditegakkan. Mereka berharap publik tidak lagi menghakimi berdasarkan potongan video tanpa konteks dan narasi provokasi tanpa ada konfirmasi ke lapangan.
Mereka juga berharap media dan para pembuat konten bisa lebih jernih dan berimbang sebelum menyebarkan informasi.
“Kami sedang berduka. Mengungsi di surau sejak bencana. Tiba-tiba keluarga kami dijemput oleh polisi karena fitnah di video itu,” ucap Kartina (55) dengan suara bergetar.
Lebih dari itu, luka psikologis juga membekas. Anak-anak dan kemenakan mereka mengalami tekanan mental akibat hujatan yang berseliweran di media sosial. Nama baik keluarga tercoreng, harga diri mereka terinjak di saat kondisi hidup sedang paling rapuh.
“Kami hanya ingin nama kami dibersihkan. Kami ini korban, bukan pelaku kejahatan,” harap warga.
Di tengah bencana alam yang belum sepenuhnya pulih, warga Gurun Panjang kini belajar satu hal pahit dari kejadian ini. Bahwa bencana sosial di media sosial bisa jauh lebih kejam dari banjir bandang yang telah merendam rumah dan menghanyutkan harta bendanya.(*)
Keterangan Foto: Kondisi pengungsi banjir bandang di sebuah surau di Gurun Panjang Kampung Jambak Kelurahan Gunung Sarik, Kuranji usai video viral di media sosial.
