Latest Post

 


Ketua DPRD Kota Padang Muharlion 

INFONEWS-Pantai Gajah di belakang Kampus Universitas Negeri Padang (UNP) kini tak lagi menyuguhkan hamparan pasir dan laut yang lapang. Sejauh mata memandang, bibir pantai justru dipenuhi tumpukan kayu berukuran kecil, sisa banjir bandang yang datang beberapa waktu lalu dan hingga kini belum sepenuhnya ditangani.

Berbeda dengan sejumlah pantai lain di Kota Padang yang telah dibersihkan pascabencana, Pantai Gajah seolah luput dari perhatian. Kayu-kayu itu teronggok memanjang mengikuti garis pantai, menjadi penanda bisu betapa dahsyatnya banjir bandang yang membawa material dari hulu hingga ke laut. Wajah pantai yang sebelumnya terbuka kini tertutup oleh sisa-sisa alam yang murka.

Tumpukan kayu tersebut tak hanya merusak pemandangan, tetapi juga menyulitkan aktivitas nelayan setempat. Perahu nelayan kesulitan untuk bersandar, jaring kerap tersangkut, dan ruang gerak di pesisir semakin terbatas.

“Kami susah mau sandar. Kalau air pasang, kayu-kayu ini bisa terbawa lagi dan menghantam perahu,” ujar seorang nelayan sambil menunjuk ke arah tumpukan kayu yang memanjang di tepi pantai.

Keresahan serupa dirasakan warga sekitar. Pantai yang biasanya menjadi ruang beraktivitas dan menikmati sore kini terlihat kumuh. Sampah kayu bercampur plastik dibiarkan mengering di bawah terik matahari, menambah kesan tak terurus di kawasan yang berdekatan dengan lingkungan kampus.

“Sayang sekali, ini dekat kampus tapi seperti luput dari perhatian pemerintah. Kayu yang besar sudah dipotong warga, tapi yang kecil dibiarkan tergelatak dan mengering. Sampai kapan kondisi ini dibiarkan?” keluh seorang warga.

Hingga kini, belum tampak upaya pembersihan berarti dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang. Tumpukan kayu masih bertahan di bibir pantai, seakan menunggu waktu untuk kembali hanyut atau membusuk di tempat.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, menyatakan akan segera melakukan koordinasi dengan DLH Kota Padang terkait sampah kayu yang masih menumpuk di sepanjang kawasan pantai.

“Ya, kita akan lakukan koordinasi dengan DLH Kota Padang terkait sampah kayu yang masih ada di sepanjang pantai, mulai dari Kecamatan Padang Utara hingga Kecamatan Koto Tangah,” ujarnya, Kamis (22/1/2026).

Selain itu, Muharlion juga mendorong peran aktif camat setempat untuk menggerakkan gotong royong bersama warga sebagai langkah awal penanganan.

“Salah satu cara yang bisa dilakukan saat ini adalah mengajak warga bergotong royong membersihkan sampah di pantai. Nanti akan saya koordinasikan dengan camat setempat,” tutupnya.(*)

INFONEWS-Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mandailing Natal melaksanakan perjalanan dinas luar daerah luar provinsi ke DPRD Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Kamis, (22/1/2026).

Kunjungan kerja ini dilakukan dalam rangka konsultasi dan koordinasi terkait upaya peningkatan kualitas administrasi kependudukan berbasis digital. 

Rombongan dipimpin oleh Anggota Komisi IV DPRD Mandailing Natal, Edi Anwar Nasution, serta didampingi oleh Staf Ahli Sekretariat DPRD Mandailing Natal, Azril Yusuf dan Osrot Nasution.

Di DPRD Kota Padang, rombongan Komisi IV DPRD Mandailing Natal diterima secara resmi oleh Kasubag Humas dan Protokoler DPRD Kota Padang, Suzi Helda. 

Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak saling bertukar informasi mengenai sistem pelayanan administrasi kependudukan yang telah diterapkan, khususnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung pelayanan publik yang efektif dan transparan.

Anggota Komisi IV DPRD Mandailing Natal, Edi Anwar Nasution, menyampaikan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran dan referensi kebijakan yang dapat diterapkan di Kabupaten Mandailing Natal.

“Kami ingin melihat secara langsung bagaimana penerapan administrasi kependudukan berbasis digital di daerah lain, khususnya di Kota Padang. Harapannya, hasil koordinasi ini bisa menjadi masukan penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan administrasi kependudukan di Mandailing Natal,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Ahli Sekretariat DPRD Mandailing Natal, Azril Yusuf, menegaskan bahwa kunjungan kerja ini merupakan bagian dari upaya mendukung tugas dan fungsi DPRD dalam mendorong peningkatan pelayanan publik.

“Perjalanan dinas ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi sarana untuk memperkuat koordinasi antarlembaga serta menggali praktik-praktik terbaik yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan kondisi daerah,” kata Azril Yusuf.

Senada dengan itu, Staf Ahli Sekretariat DPRD Mandailing Natal lainnya, Osrot Nasution, menambahkan bahwa digitalisasi administrasi kependudukan merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

“Transformasi digital dalam administrasi kependudukan sangat penting untuk mewujudkan pelayanan yang cepat, akurat, dan akuntabel. Apa yang kami pelajari dalam kunjungan ini akan kami rangkum dalam laporan resmi kepada pimpinan,” jelasnya. (*)

INFONEWSKota Padang tengah menghadapi krisis air bersih yang kian meluas pascabencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu. 

Dampak kerusakan infrastruktur serta menurunnya debit air tanah, yang diperparah oleh musim kemarau, menyebabkan ratusan sumur dangkal milik warga mengering. 

Kondisi ini dirasakan di sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Kuranji, Pauh, dan sebagian kawasan Padang Timur.

Sejak pascabencana tersebut, Pemerintah Kota Padang bersama berbagai pihak telah menyalurkan bantuan air bersih.Suplai air pada tahap awal datang dari pemerintah provinsi, BPBD, Damkar, Dinas PUPR, hingga dukungan TNI. 

Namun dalam dua pekan terakhir, kekeringan semakin meluas seiring turunnya permukaan air tanah, sehingga semakin banyak sumur warga yang tidak lagi menghasilkan air.

Menyikapi kondisi tersebut, DPRD Kota Padang menggelar rapat koordinasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada Kamis, (22/1/2026), guna memastikan penanganan darurat krisis air bersih dapat dilakukan secara lebih proaktif, terkoordinasi, dan merata di seluruh wilayah terdampak.

Dalam rapat tersebut, Direktur Utama PDAM Kota Padang Hendra Pebrizal, menyampaikan bahwa secara umum tingkat layanan PDAM masih berada pada angka 98,3 persen atau sekitar 127 ribu pelanggan. 

Namun demikian, sekitar 1,7 persen atau kurang lebih 2.165 pelanggan masih mengalami gangguan layanan akibat dampak pascabencana dan kondisi kemarau.

“Untuk pelanggan PDAM yang terdampak, kami telah menyiapkan layanan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki serta penempatan tedmon. Sementara untuk masyarakat non-pelanggan PDAM, suplai air bersih dilakukan oleh BPBD bersama OPD terkait, dengan sumber air yang diambil dari IPA Pelukahan dan IPA Sikayan,” ujar Hendra Pebrizal

Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, menegaskan bahwa krisis air bersih ini tidak hanya dialami oleh pelanggan PDAM, tetapi juga masyarakat yang selama ini mengandalkan sumur mandiri yang kini mengering pascabencana.

“Kita tidak boleh membiarkan masyarakat kekurangan air bersih. Pascabencana ini harus ditangani secara serius. PDAM fokus melayani pelanggannya, sementara BPBD dan pemerintah kota harus memastikan warga non-pelanggan juga terlayani. Penanganannya harus satu pintu dan satu komando agar tidak tumpang tindih dan tidak ada wilayah yang terabaikan,” tegas Muharlion.

Selain penanganan darurat, DPRD Kota Padang juga menekankan pentingnya langkah antisipatif ke depan. 

DPRD meminta penambahan armada mobil tangki, penguatan koordinasi lintas OPD, serta pemetaan wilayah rawan kekeringan sebagai bagian dari mitigasi pascabencana, agar krisis serupa tidak kembali terulang dan kebutuhan dasar masyarakat tetap terjamin.(*)



INFONEWS-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang menegaskan pentingnya penguatan koordinasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam pendistribusian air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan pascabencana alam.

Penegasan tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama PDAM Kota Padang, BPBD, Dinas Pekerjaan Umum, serta OPD terkait lainnya yang dilaksanakan pada Kamis, (22/1/2026).

Dalam rapat tersebut, DPRD menyoroti masih adanya sejumlah wilayah yang hingga kini belum terdata secara menyeluruh dan belum terlayani secara optimal. 

Kondisi ini dinilai terjadi akibat lemahnya pemetaan wilayah terdampak serta kurang maksimalnya koordinasi di lapangan, sehingga menimbulkan keluhan dari masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

“Kita minta ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab di lapangan. Jangan sampai masyarakat menjadi korban hanya karena data yang tidak sinkron dan koordinasi yang lemah,” tegas Muharlion.

DPRD menilai bahwa dampak pasca bencana yang diperparah oleh musim kemarau panjang telah menyebabkan menurunnya ketersediaan air bersih di berbagai kawasan. Oleh karena itu, DPRD meminta agar penanganan dilakukan secara terintegrasi dengan sistem satu pintu dan satu komando, sehingga distribusi air bersih dapat dilakukan lebih merata dan tepat sasaran.

BPBD Kota Padang dalam rapat tersebut menyatakan kesiapan untuk meningkatkan pelayanan distribusi air bersih dengan menambah armada mobil tangki melalui kolaborasi bersama Damkar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas PU, serta instansi terkait lainnya. 

Langkah ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran air bersih ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.

Sementara itu, PDAM Kota Padang menegaskan komitmennya untuk tetap fokus pada pelayanan pelanggan sesuai dengan tugas dan fungsi (tupoksi) PDAM. 

Namun demikian, PDAM juga menyatakan dukungannya terhadap suplai air bersih bagi masyarakat terdampak melalui koordinasi dengan BPBD dan Pemerintah Kota Padang.

DPRD Kota Padang menutup rapat dengan menekankan bahwa penanganan krisis air bersih pascabencana harus menjadi prioritas bersama seluruh pemangku kepentingan. 

DPRD memastikan akan terus melakukan pengawasan agar pelayanan dasar masyarakat tetap terjaga dan dampak sosial akibat kekeringan dapat diminimalkan.(*)

INFONEWS-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang mendorong Pemerintah Kota Padang untuk mempercepat pelaksanaan program jangka panjang berupa pembangunan sumur bor sebagai langkah antisipatif menghadapi kekeringan, khususnya pascabencana alam yang berdampak pada menurunnya ketersediaan air bersih di sejumlah wilayah.

Hal tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang digelar DPRD Kota Padang, pada Kamis (22/1/ 2026).

Rapat tersebut membahas evaluasi penanganan krisis air bersih sekaligus langkah strategis jangka panjang agar persoalan serupa tidak kembali berulang.

Dalam rapat tersebut, DPRD menerima laporan bahwa hingga saat ini telah masuk lebih dari 200 usulan titik pembangunan sumur bor dari berbagai kelurahan. 

Usulan tersebut sedang dalam tahap verifikasi oleh Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) sesuai dengan persyaratan teknis dan administratif yang ditetapkan oleh Balai Wilayah Sungai.

Ketua DPRD Kota Padang Muharlion menegaskan bahwa dampak pascabencana yang diperparah oleh musim kemarau telah menyebabkan banyak sumur dangkal milik warga mengering. 

Oleh karena itu, pembangunan sumur bor dinilai sebagai solusi jangka panjang yang harus segera direalisasikan.

“Kami minta setiap kecamatan dan kelurahan tidak hanya mengusulkan berdasarkan kondisi darurat saat ini, tetapi juga melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan sebagai bagian dari mitigasi bencana ke depan. Penanganan ke depan tidak boleh lagi bersifat reaktif,” tegas Muharlion.

DPRD juga menekankan pentingnya peran aktif camat dan lurah dalam menyiapkan data serta memastikan kelengkapan persyaratan, mulai dari status dan hibah lahan, ketersediaan lokasi, hingga penetapan pengelola sumur bor. 

Hal ini dinilai krusial agar proses pembangunan tidak terhambat secara administratif.

Selain itu, DPRD meminta OPD terkait untuk lebih proaktif berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai, mengingat rencana pembangunan sumur bor tersebut akan dilengkapi dengan menara air, hidran umum, serta sumber energi panel surya. 

DPRD berharap percepatan realisasi program ini dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat Kota Padang, khususnya di wilayah rawan kekeringan pascabencana.(*)


INFONEWS -Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Kabupaten Agam dijadwalkan akan melaksanakan kunjungan kerja ke DPRD Kota Padang dalam rangka memperkaya wawasan serta referensi terkait pola, sistem, dan strategi pelaksanaan tugas pokok dan fungsi DPRD.

Kunjungan kerja tersebut direncanakan berlangsung pada Kamis, (22/1/2026), dengan jumlah rombongan sebanyak 17 orang. Kegiatan ini mengusung agenda musyawarah dan studi banding, khususnya membahas eksistensi dan peran Badan Musyawarah (Bamus) dalam mendukung kinerja kelembagaan DPRD.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Agam, Muhammad Risman, menyampaikan bahwa kunjungan kerja ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran strategis Bamus dalam tata kelola kelembagaan DPRD.

“Melalui kunjungan kerja ini, kami berharap dapat memperoleh gambaran dan pengalaman langsung dari DPRD Kota Padang, khususnya terkait bagaimana Bamus berperan dalam menyusun agenda kerja yang efektif, terukur, dan mampu menunjang pelaksanaan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan DPRD,” ujar Muhammad Risman.

Ia juga menambahkan bahwa pertukaran informasi dan pengalaman antar DPRD sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan serta profesionalisme lembaga legislatif di daerah.

Kasubag Humas dan Protokoler DPRD Padang, Suzi Helda, menyambut baik kunjungan kerja tersebut. 

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif DPRD Kabupaten Agam untuk melakukan studi banding ke sini. Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi kedua lembaga untuk saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik dalam mendukung efektivitas peran Bamus serta kinerja DPRD secara keseluruhan,” ungkap Suzi Helda.

Untuk memastikan kelancaran pelaksanaan kegiatan, pihak DPRD Kabupaten Agam juga telah membuka ruang koordinasi dan konfirmasi lebih lanjut.

Kunjungan kerja ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas kelembagaan serta penguatan fungsi legislatif melalui pertukaran informasi dan pengalaman antar DPRD di wilayah Sumatera Barat. (*)

Ketua DPRD Kota Padang Muharlion. 

INFONEWS-Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, memberikan teguran keras kepada Pemerintah Kota (Pemko) Padang terkait buruknya tata kelola di kawasan objek wisata Pantai Padang.

Muharlion mengaku sangat menyayangkan munculnya seruan blacklist dari warganet di media sosial akibat maraknya praktik pungutan liar (pungli) parkir dan harga kuliner yang tidak wajar.

Ia mendesak agar Satpol PP dimaksimalkan untuk mengembalikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung ke ikon wisata Kota Padang tersebut.

Penyataanitu dia sampaikan menyikapi suara sumbang netizen di media sosial yang mengeluhkan pengalaman buruk saat berwisata di Pantai Padang sampai ke telinga pimpinan legislatif.
Muharlion menegaskan bahwa kebocoran pengawasan tidak boleh terjadi lagi, mengingat personel Satpol PP saat ini sudah ditambah, termasuk dari tenaga outsourcing.

“Ini tidak boleh terjadi. Jika netizen memasukkan Pantai Padang ke dalam daftar blacklist wisata, tentu akan sangat merugikan industri pariwisata kita. Kami minta Satpol PP dimaksimalkan agar tidak muncul citra negatif,” ujar Muharlion dengan tegas, Rabu (21/1/2026).

Politisi PKS ini menyoroti praktik parkir liar yang kerap memaksa pengunjung membayar di depan dengan tarif yang tidak masuk akal. Menurut Muharlion, Pemko Padang sebenarnya sudah memiliki payung hukum yang sangat jelas untuk menindak tegas para juru parkir (jukir) liar yang meresahkan tersebut.

“Aturannya sudah ada, pungutan liar dapat dijerat dengan pasal dan perda. Yang dituntut sekarang adalah kemauan Pemko dalam mengimplementasikannya. Kita tidak ingin citra pariwisata Kota Padang menjadi buruk di mata nasional maupun internasional,” tegasnya.

Selain masalah parkir, Muharlion juga memberikan catatan merah terhadap perilaku oknum Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sering melakukan praktik “getok harga”. Ia meminta adanya pembinaan serius agar pedagang tidak menaikkan harga semena-mena yang dapat merusak citra keramahan warga Padang.

Ia menekankan bahwa kenyamanan pengunjung adalah kunci utama keberlanjutan ekonomi pariwisata. Jika wisatawan merasa nyaman, mereka tidak hanya akan kembali, tetapi juga membawa rombongan lebih banyak, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Muharlion mengingatkan Pemko Padang bahwa tuntutan wisatawan sebenarnya sangat sederhana, yakni tempat yang bersih, tarif parkir wajar, fasilitas layak, serta jaminan keamanan. Ia tidak ingin keindahan matahari terbenam di Pantai Padang kalah oleh semrawutnya tata kelola di lapangan.

Di akhir pernyataannya, ia mendesak pengelolaan pariwisata yang lebih profesional dan berkelanjutan. Tanpa pembenahan serius, Pantai Padang berisiko kehilangan pesonanya bukan karena alamnya, melainkan karena kegagalan pemerintah dalam menjawab harapan masyarakat.(bim)

Author Name

{picture#YOUR_PROFILE_PICTURE_URL} YOUR_PROFILE_DESCRIPTION {facebook#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {twitter#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {google#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {pinterest#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {youtube#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL} {instagram#YOUR_SOCIAL_PROFILE_URL}

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.